Setop Menghakimi! Pahami 6 Cara yang Lebih Tepat untuk Membantu Perempuan Korban KDRT

Beauties, jika kamu mengetahui atau mencurigai seseorang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kamu mungkin bingung cara terbaik untuk membantu. Namun, jangan biarkan rasa takut mengatakan hal yang salah menghalangi kamu untuk tetap membantunya. Misalnya, menunggu kata-kata yang tepat dapat menghalangi kamu memanfaatkan peluang untuk mengubah hidup seseorang.

Sementara bagi banyak korban kekerasan dalam rumah tangga, dunia ini mungkin penuh dengan kesepian, isolasi, dan ketakutan. Terkadang, menjangkau dan memberi tahu mereka bahwa kamu ada untuk mereka dapat memberikan kelegaan yang luar biasa.

Yuk, gunakan tips berikut untuk membantu kamu mendukung seseorang yang menjadi korban KDRT!

1. Meluangkan Waktu untuk Mereka

Tips pertama jika kamu memutuskan untuk menghubungi korban pelecehan adalah lakukan pada saat situasi sudah tenang. Pasalnya, terlibat ketika emosi sedang memuncak dapat membahayakan kamu. Selain itu, pastikan untuk menyisihkan banyak waktu jika korban memutuskan untuk membuka diri.

Jika orang tersebut memutuskan untuk mengungkapkan rasa takut dan frustasi yang terpendam selama bertahun-tahun, pastikan kamu tidak ingin mengakhiri percakapan hanya karena kamu memiliki agenda lain.

2. Memulai Percakapan

Memulai Percakapan/Foto: Freepik

Kamu bisa mengangkat topik kekerasan dalam rumah tangga dengan mengatakan, “Aku mengkhawatirkan kamu karena …” atau “Aku menghkawatirkan keselamatanmu …” atau “Aku memperhatikan beberapa perubahan dari dirimu yang membuatku khawatir….”

Mungkin, kamu pernah melihat temanmu mengenakan pakaian untuk menutupi memar atau memperhatikan dia tiba-tiba menjadi sangat pendiam dan menarik diri. Keduanya adalah tanda umum adanya pelecehan atau kekerasan.

Selain itu, beri tahu temanmu bahwa kamu akan merahasiakan informasi apa pun yang diungkapkan. Jangan mencoba memaksa orang tersebut untuk terbuka. Biarkan percakapan berlangsung dengan alur yang nyaman.

3. Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Mendengarkan Tanpa Menghakimi/Foto: Unsplash/kevin laminto

Jika perempuan korban KRDT sudah memutuskan untuk berbicara, dengarkan ceritanya tanpa menghakimi, memberikan nasihat, ataupun memberikan solusi apapun. Ketika kamu mendengarkan secara aktif, orang tersebut akan dengan mudah memberi tahu apa yang mereka butuhkan. Jadi, kamu hanya perlu memberikan kesempatan penuh untuk berbicara.

Kamu dapat mengajukan pertanyaan klarifikasi, tetapi pada dasarnya biarkan mereka melampiaskan perasaan dan ketakutannya. Kamu mungkin orang pertama yang menjadi pendengar bagi korban.

4. Mempelajari Tanda Peringatannya

Mempelajari Tanda Peringatannya/Foto: unsplash/Trung Thanh

Hingga saat ini, banyak orang berusaha menutupi kekerasan karena berbagai alasan. Oleh sebab itu, mempelajari tanda-tanda peringatan kekerasan dalam rumah tangga dapat membantu kamu untuk membantu mereka.

Misalnya, tanda fisik pada korban KDRT antara lain mata hitam, bibir pecah, tanda merah atau ungu di leher, pergelangan tangan terkilir, dan memar di lengan. Tanda emosionalnya antara lain merasa rendah diri, terlalu banyak minta maaf, takut, gangguan pola tidur dan makan, cemas, hilangnya minat pada hobi yang disukai sebelumnya, hingga sering berbicara tentang bunuh diri.

Sementara itu, ada pula tanda perilaku yang dialami korban KDRT seperti menarik diri dari orang di sekitarnya, sering terlambat, hingga mengisolasi diri dari teman dan keluarga.

5. Percaya pada Korban KDRT
Sahabat. Foto: Pexels.com/Liza Summer

Percaya pada Korban KDRT/Foto: Pexels.com/Liza Summer

Sering kali, korban KDRT tidak dipercaya atas apa yang dialami terkait kekerasan dalam rumah tangga. Padahal, merekalah satu-satunya yang melihat sisi gelap dari pelaku KDRT. Sayangnya, orang lain justru terkejut ketika mengetahui bahwa seseorang yang mereka kenal bisa melakukan KDRT.

Akibatnya, korban KDRT sering kali merasa tidak seorang pun akan mempercayai mereka jika mereka memberi tahu orang lain tentang kekerasan yang mereka alami. Jika kamu menjadi temannya, percayalah pada cerita korban dan katakan kamu mempercayainya.

Bagi seorang korban, memiliki seseorang yang mengetahui kebenaran perjuangannya dapat membawa harapan dan kelegaan.

6. Validasi Perasaan Korban

Validasi Perasaan Korban/Foto: unsplash/Yuri Levin

Bukan hal aneh bagi korban KDRT untuk mengungkapkan perasaan yang bertentangan tentang pasangannya dan situasi mereka. Perasaan ini dapat mencakup rasa bersalah dan kemarahan, harapan dan keputusasaan, serta cinta dan ketakutan.

Jika kamu ingin membantu, penting bagi kamu untuk mengakui perasaannya dengan memberitahu mereka bahwa memiliki pemikiran yang bertentangan adalah hal yang normal. Namun, penting juga bagi kamu untuk memastikan bahwa kekerasan tidak diperbolehkan dan tidak normal jika hidup dalam ketakutan akan serangan fisik.

Sebab, beberapa korban KDRT tidak menyadari bahwa situasi yang mereka hadapi tidak normal. Jadi, kamu harus memberitahu korban bahwa kekerasan dan pelecehan bukanlah bagian dari hubungan yang sehat. Tanpa menghakimi, tegaskan kepada mereka bahwa situasi mereka berbahaya, dan kamu mengkhawatirkan keselamatan mereka.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)