Sederet Krisis Kemanusiaan Sepanjang 2023, Genosida di Palestina hingga Bencana Kelaparan di Somalia

Sepanjang tahun 2023 banyak terjadi momen-momen yang tidak bisa terlupakan. Meskipun satu tahun bukanlah waktu yang singkat, namun, ada beberapa momen yang berhasil menetap di hati sebagian besar masyarakat dunia, terutama jika dilihat dari sisi kemanusiaan.

Pasalnya, tidak selalu momen baik dan bahagia saja yang terjadi di tahun 2023. Ada juga beberapa momen duka yang kerap menghampiri di sepanjang tahun ini dan membuat hati siapa saja menjadi terenyuh ketika menyaksikannya. Tak jarang juga beberapa momen tersebut viral sehingga menjadi alarm kemanusiaan bagi masyarakat dunia untuk terus memberikan uluran tangannya kepada yang membutuhkan.

Jika kita dapat memahami dan ikut merasakan apa yang telah terjadi pada sebagian negara yang mengalami krisis kemanusiaan maka kita bisa mengetahui langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan mencegahnya. Sehingga pada akhirnya akan tercipta kesempatan untuk mengurangi skala penderitaan manusia dan mewujudkan perdamaian di dunia.

Berikut sederet krisis kemanusiaan sepanjang 2023, dirangkum dari berbagai sumber.

Kekacauaan di Haiti

Kekacauan di Haiti/Foto: dok. abc News

Kekacauan di Haiti kian memburuk dari hari ke hari. Dalam beberapa bulan terakhir, sebagaimana yang dilansir dari Reliefweb, kekacauan yang didominasi oleh sekelompok geng bersenjata di Haiti, khususnya di ibu kota Port-au-Prince dan daerah sekitarnya ini telah mengganggu kehidupan sehari-hari dan membuat warga sipil merasa tidak aman. Pasalnya, geng-geng bersenjata tersebut menguasai jalur distribusi secara brutal. Sehingga menyebabkan kekurangan bahan pokok termasuk bahan pangan hingga bahan bakar.

Diperkirakan lebih dari 200 geng saat ini beroperasi di seluruh negeri dan kelompok terbesar menguasai hingga 80 persen Port-au-Prince. Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) menemukan bahwa antara 1 Januari dan 30 September 2023, tercatat 5.599 kasus kekerasan terkait kelompok bersenjata, termasuk 3.156 pembunuhan, 1.159 cedera, dan 1.284 penculikan. 

Kekacauan di Haiti
Kekacauan di Haiti/Foto: dok. CTV News

Sementara itu, dalam laporan tahun 2023, Human Rights Watch merinci kekacauan yang dialami oleh warga sipil di Haiti bahwa pembunuhan di wilayah metropolitan Port-au-Prince dan Artibonite sering kali disertai dengan kekerasan seksual, penjarahan, hingga pembunuhan dan pembakaran mayat di jalan-jalan. Selain itu, juga terjadi pendudukan ilegal atas rumah-rumah yang menyebabkan ribuan orang harus mengungsi.

Pada bulan Agustus 2023 lalu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan bahwa hampir 200.000 orang menjadi pengungsi internal di Haiti dan sering kali kondisi mereka tidak dalam kondisi yang manusiawi.

Lebih lanjut, Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan bahwa dalam lima bulan pertama tahun 2023, mereka membantu 1.005 penyintas kekerasan seksual di Port-au-Prince. Saat ini, International Rescue Committee (IRC) juga ikut membantu mengurangi skala penderitaan manusia di Haiti dengan cara melayani warga sipil yang ingin mengungsi ke tempat lain. 

Krisis Ekonomi dan Kesehatan di Suriah

Krisis ekonomi dan kesehatan di Suriah/Foto: dok. CARE International

Sekitar 75 persen warga Suriah tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka karena harga barang yang terus meningkat di tahun 2023. Sehingga jutaan orang bergantung pada bantuan kemanusiaan. Selain itu, negara ini juga sedang bergulat dari dampak kerusakan material dan manusia akibat bencana gempa bumi serta gempa susulan pada Februari 2023 yang ikut memperparah krisis ekonomi di Suriah.

Melansir dari UNICEF, krisis ekonomi yang sedang berlangsung ini juga memperburuk mekanisme penanggulangan dan berdampak pada rumah tangga yang dikepalai perempuan, berkontribusi pada normalisasi kekerasan berbasis gender, serta eksploitasi pada anak. Bahkan sekitar 90 persen keluarga di negara ini hidup dalam kemiskinan, sementara lebih dari 50 persennya mengalami krisis pangan.

Di tengah krisis yang terjadi, banyak anak dan keluarga terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih aman. Sehingga mengakibatkan banyak pengungsi internal. Belum lagi, tingkat kemiskinan terkait dengan migrasi penduduk yang membuat anak-anak dan keluarga mereka sering kali berakhir di daerah kumuh jika mereka pindah ke daerah perkotaan.

Krisis ekonomi dan kesehatan di Suriah
Krisis ekonomi dan kesehatan di Suriah/Foto: dok. Middle East Institute

Selain itu, runtuhnya sistem layanan kesehatan serta kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang buruk, ikut melengkapi krisis kemanusiaan yang terjadi di Suriah. Sehingga hal ini tidak hanya menyebabkan krisis pangan, tetapi juga mengakibatkan kerentanan terhadap penyakit yang menular melalui air dan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, serta memicu peningkatan terhadap gizi buruk pada anak-anak.

Sementara itu, dalam hal penanggulangan krisis kemanusiaan yang terjadi di Suriah ini, IRC membantu dengan cara memulihkan ekonomi mereka melalui pelatihan kerja, pemagangan dan dukungan usaha kecil. IRC juga mendukung fasilitas kesehatan dan tim kesehatan keliling dengan layanan trauma serta layanan kesehatan primer, reproduksi, dan mental.

Sedangkan, UNICEF ikut memberikan bantuan kemanusiaan dengan menyediakan air minum yang aman, vaksin, serta kebutuhan kesehatan dan nutrisi lainnya di seluruh negeri, termasuk akses ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Tidak hanya itu, UNICEF dan mitranya juga sedang memperbaiki fasilitas sekolah, melatih guru, hingga memperbaiki fasilitas air dan sanitasi.

Konflik di Yaman

Konflik di Yaman/Foto: dok. The Atlantic

Akibat gagalnya gencatan senjata yang memicu kegagalan dalam memitigasi dampak ekonomi dan kesehatan dari konflik, saat ini 80 persen penduduk Yaman hidup dalam kemiskinan ekstrem dan 2,2 juta anak mengalami kekurangan gizi akut.

Selain itu, di tahun ini juga terdapat lebih dari 1,5 juta perempuan hamil dan menyusui yang diperkirakan menderita karena kekurangan gizi akut dengan risiko hasil kelahiran negatif dan bayi yang kekurangan gizi. 

Belum lagi, pertempuran lokal yang masih terus terjadi sehingga menyulitkan organisasi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Bahkan barang-barang pokok seperti makanan dan bahan bakar menjadi tidak terjangkau bagi banyak warga sipil di Yaman.

Sementara itu, di tengah konflik yang sedang berlangsung dan menimbulkan tantangan, IRC dan relawan lainnya tetap terus berusaha menjangkau masyarakat yang terdampak dan menyediakan layanan kesehatan, perlindungan dan pemberdayaan perempuan, serta program pendidikan.

Krisis Kesehatan dan Genosida di Kongo

Krisis kesehatan dan Genosida di Kongo/Foto: dok. Mercy Corps

Republik Demokratik Kongo (DRC) juga termasuk ke dalam salah satu negara yang mengalami krisis kemanusiaan di tahun 2023. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Kongo meliputi krisis kesehatan dan genosida. Bahkan wabah penyakit besar, seperti campak, malaria dan Ebola, terus mengancam sistem layanan kesehatan yang sudah melemah. Sehingga hal tersebut membahayakan banyak nyawa.

Sementara itu, genosida yang terjadi di Kongo disebabkan oleh serangan yang dilancarkan oleh kelompok bersenjata March 23 (M23) terhadap penduduk Suku Hutu. Melansir dari CNBC Indonesia, UNICEF mengatakan bahwa pada April lalu, konflik di wilayah timur Kongo tersebut telah mengganggu sekolah bagi 750.000 anak muda.

Lebih lanjut, Clémentine de Montjoye, peneliti Afrika di Human Rights Watch, juga menambahkan bahwa pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh kelompok M23 terus terjadi. Mereka mendapatkan dukungan dari militer yang diberikan komandan Rwanda kepada kelompok bersenjata tersebut.

Krisis kesehatan dan Genosida di Kongo
Krisis kesehatan dan Genosida di Kongo/Foto: dok. Mercy Corps

Sementara itu, melansir dari Rescue, kerusuhan politik juga terus meningkat ketika negara ini bersiap untuk mengadakan pemilu. Para pemimpin dituduh menghasut dan mendukung konflik untuk memenangkan konstituen. Meskipun ada upaya pemeliharaan perdamaian, namun kekerasan terhadap organisasi bantuan mungkin akan meningkat sebelum pemungutan suara.

Dalam upaya penanggulangan krisis kemanusiaan yang terjadi di Kongo, IRC bekerja dengan masyarakat dalam proyek pembangunan perdamaian untuk mengurangi konflik dan meluncurkan respons darurat untuk mengatasi Ebola dan krisis kesehatan lainnya, termasuk wabah terbaru di Kongo timur.

Sedangkan, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS), Avril Haines, melakukan perjalanan ke DRC dan Rwanda. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan memantau upaya mereka. Adapun Presiden Rwanda, Paul Kagame dan Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, masing-masing menawarkan komitmen kepada Haines untuk meredakan ketegangan di DRC timur.

Bencana Kelaparan di Somalia

Bencana Kelaparan di Somalia/Foto: dok. Daily Sabah

Bencana kelaparan yang terjadi di Somalia kian memburuk. Melansir dari Reliefweb, Diperkirakan 8,25 juta orang yang meliputi, 1,5 juta anak balita, 1,8 juta anak perempuan (lima hingga 17 tahun), 1,8 juta anak laki-laki (lima hingga 17 tahun), 1,3 juta perempuan, 1,4 juta laki-laki, dan 412.000 lansia memerlukan bantuan kemanusiaan. Sebagian besar masyarakat berada di ambang kelaparan. Bahkan banyak masyarakat Somalia yang telah kehilangan nyawanya karena kelaparan.

Bencana kelaparan tersebut terjadi akibat perubahan iklim dan ketergantungan Somalia pada impor sehingga hancurnya produksi pangan. Melansir dari Rescue, lebih dari 90 persen gandum di Somalia berasal dari Rusia dan Ukraina. Selain itu, tingginya harga pangan global yang didorong oleh perang di Ukraina juga berdampak pada masyarakat Somalia yang semakin sulit mendapatkan makanan.  

Sementara itu, IRC terus meningkatkan programnya untuk bisa mengatasi bencana kelaparan dan kekeringan di Somalia. Bahkan IRC juga memperluas ke wilayah baru untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak.

Bencana Kelaparan di Papua

Bencana kelaparan di Papua/Foto: detikcom

Bencana kelaparan selanjutnya juga terjadi di Papua. Bencana kelaparan ini disebabkan oleh kekeringan dan gagal panen akibat cuaca ekstrem. Sejak Agustus 2023 hingga saat ini, dilaporkan sebanyak 24 orang meninggal dunia dari 13 kampung yang terletak di Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Melansir dari detikNews, menurut Menko PMK Muhadjir Effendy, untuk sementara ini bencana kelaparan di Papua sudah ditangani di tingkat kabupaten. Ia juga mengatakan sudah berkomunikasi dengan bupati dan polisi setempat untuk memberikan bantuan.

Selain itu, Muhadjir Effendy akan mencari penyelesaian permanen agar bencana kelaparan ini tidak kembali terjadi di masa mendatang. Adapun beberapa upaya untuk mewujudkan hal tersebut, meliputi transfer teknologi tepat guna serta sektor pertanian dan pengenalan varietas unggul yang tahan terhadap cuaca ekstrem. 

Genosida di Palestina yang Dilakukan Israel

Genosida di Palestina yang dilakukan Israel/Foto: Getty Images

Serangan yang dilancarkan Israel terhadap Palestina sejak 7 Oktober lalu menunjukkan adanya tanda-tanda genosida atau tindakan pemusnahan suatu kelompok. Pasalnya, serangan yang Israel klaim untuk menghancurkan pasukan Hamas (pejuang kemerdekaan Palestina) ini ternyata hanyalah kedok belaka dan merupakan bagian dari propaganda palsu mereka yang tujuan sebenarnya adalah untuk memusnahkan seluruh penduduk Palestina.

Hal ini dibuktikan dari banyaknya korban jiwa yang merupakan warga sipil, yang mana kebanyakan korbannya adalah anak-anak dan perempuan. Hingga saat ini korban yang berjatuhan sudah tembus lebih dari 14.000 korban. Tidak hanya itu, Israel bahkan melakukan pengeboman massal terhadap sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit. Mereka juga menyerang dan melukai para tenaga medis yang sedang bertugas.

Melansir dari CNN Indonesia, Ben Kiernan, selaku Direktur Program Genosida Kamboja di Universitas Yale, mengatakan bahwa serangan Israel ke Palestina memenuhi hukum genosida. Pemboman balasan yang dilakukan Israel terhadap Gaza, betapapun tidak pandang bulunya, dan serangan darat yang dilakukan saat ini meskipun banyak korban sipil yang ditimbulkannya di kalangan penduduk Palestina di Gaza, tidak memenuhi ambang batas yang sangat tinggi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut telah memenuhi definisi hukum genosida.

Sementara itu, meskipun sempat terjadi gencatan senjata sementara yang dimulai pada Jumat (24/11), yang mana salah satu ketentuan perjanjiannya adalah mengembalikan para sandera dari kedua belah pihak.

Namun, faktanya Israel “bermain” licik terhadap Palestina dengan menculik kembali orang-orang Palestina dan menembaki mereka di sela-sela pembebasan sandera yang tengah berlangsung. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan isi perjanjian yang telah kedua belah pihak sepakati.

Di lain pihak, Hamas menepati isi perjanjian gencatan senjata sementara dengan mengembalikan para sandera, sedangkan para tentara Israel justru menangkap ratusan pemuda Palestina di Tepi Barat pada Selasa (28/11) dini hari waktu setempat, sebagaimana yang dilansir dari Al Arabiya. Tentara Israel ini juga menyerbu kota Beitunia dan Kafr Ain, sebelah barat Ramallah, dan menembak dua orang pemuda.

Lebih lanjut, melansir dari Reuters, empat orang Palestina, termasuk dua orang anak berusia 15 tahun dan 8 tahun, tewas ditembak tentara Israel dalam insiden terpisah di kota Jenin, Tepi Barat. Penembakan tersebut terjadi pada Rabu (29/11) waktu setempat. Sebelumnya, kedua anak tersebut sedang berada di pinggir jalan raya utama Jenin, yang mana secara teoretis, area itu merupakan area terlarang bagi pasukan militer Israel.

Hingga saat ini, genosida yang telah dilakukan Israel terhadap Palestina masih terus berlanjut. Meskipun demikian, semakin banyak masyarakat dunia yang mendukung Palestina dengan melakukan demo pro-Palestina di jalan-jalan dan mendesak PBB untuk segera melakukan perpanjangan gencatan senjata menjadi gencatan senjata kemanusiaan jangka panjang.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)