Kenali 7 Tanda ‘Inner Child’ yang Terluka, Yuk Berdamai!

Meskipun kita tidak dapat melihatnya, masing-masing dari kita seperti memiliki diri kedua yang mengikuti kita ke mana pun. Biasanya, sosok kedua dalam diri kita beberapa tahun lebih muda dari kita. Sosok ini dapat mendorong keputusan kita, menciptakan ketakutan yang tidak masuk akal, dan bahkan menyabotase impian kita.

Tapi, siapakah sosok kedua dan apa yang diinginkan? Dia adalah “anak batin” atau “inner child” yang masih berusia lima, tujuh, atau sembilan tahun yang ada di dalam diri kita. Tanpa kamu sadari, sosok ini dapat berdampak besar pada hidup, baik kesehatan mental, fisik, prestasi, hubungan dengan orang lain, dan kemampuan untuk merasakan kegembiraan pada masa kini atau bahkan masa depan.

Melansir dari Lumo Health, ada beberapa tanda utama dari seseorang yang mempunyai luka batin atau inner child yang terluka. Yuk, cari tahu!

Memiliki Perasaan yang Besar terhadap Hal-Hal Kecil

Kamu mungkin berpikir, apabila beberapa luka masa kecil terjadi ketika kamu masih terlalu muda untuk mengingatnya, lalu bagaimana kamu bisa tahu bahwa luka itu ada? Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan mencari petunjuk reaksi kamu terhadap suatu situasi.

Terlebih ketika reaksimu tampak berlebihan terhadap sesuatu hal. Misalnya, jika kamu merasa sangat marah ketika seorang teman melihat ponselnya saat kamu sedang berbicara dengannya. Ini bisa jadi tanda bahwa sebagian kebutuhan kamu akan perhatian tidak terpenuhi saat kamu masih kecil.

Dengan kata lain, masalah mental, emosional, dan relasional yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari sering kali menjadi penanda penderitaan masa lalu, baik yang diingat maupun yang terlupakan. Kamu cukup mencari petunjuk luka psikologis kamu yang meliputi respon yang kuat terhadap situasi yang sebenarnya sepele.

Tindakan yang Menyabotase Diri Sendiri

Tindakan yang Menyabotase Diri Sendiri/Foto: Freepik

Pernah melewatkan batas waktu lamaran untuk pekerjaan impian? Atau memulai pertengkaran dengan pasangan baru tanpa alasan? Kadang-kadang, ini bisa menjadi tanda bahwa meskipun kamu yang sudah dewasa siap untuk kemajuan karier atau hubungan yang serius, bagian muda dari diri kamu sangat takut dan cemas akan hal itu.

Kamu terus merasa takut dan menghindari bahaya yang meskipun dulunya nyata dan sudah lama tidak nyata. Perilaku sabotase diri dari inner child kamu dapat berakar pada berbagai alasan dan mungkin muncul dalam bentuk kelupaan, penundaan, atau kehilangan kesabaran.

Hal ini bahkan dapat muncul sebagai alasan mengapa suatu hubungan, pekerjaan, atau peluang tidak tepat bagi kamu. Padahal sebenarnya kamu hanya didorong oleh rasa takut.

Mekanisme Penanggulangan yang Tidak Sehat

Mekanisme Penanggulangan yang Tidak Sehat/Foto: Pexels/energepic.com

Mekanisme penanggulangan adalah segala sesuatu yang kita lakukan untuk mengelola emosi yang sulit atau menyakitkan. Kadang-kadang, orang yang memiliki luka di masa kanak-kanak akan mengembangkan keterampilan mengatasi masalah yang tidak sehat, seperti penggunaan narkoba, minuman keras, atau menjauhi kenyataan.

Mereka juga mungkin membawa dirinya ke dalam kesibukan yang terus menerus sebagai cara untuk menghindari perasaan mereka. Ini karena reaksi yang lebih yang lebih sehat terhadap situasi yang menyakitkan, seperti mengelola emosi dan menenangkan diri, mungkin tidak dicontohkan oleh orang tuanya.

Hubungan yang Sulit dengan Keluarga

Hubungan yang Sulit dengan Keluarga/Foto: Pexels/Nicole Michalou

Luka batin yang kamu miliki dapat mencakup ketegangan dalam keluarga, perasaan ditolak, perasaan dikritik, perasaan dikucilkan, ataupun ketergantungan emosional yang kuat antara kamu dan orang tua.

Apapun masalahnya, tantangan apapun dalam hubungan keluarga mungkin merujuk pada permasalahan lama yang belum terselesaikan di masa kanak-kanak, serta kebutuhan yang belum terpenuhi.

Faktanya, perasaan orang tua atau saudara kamu saat ini bisa menjadi tanda betapa kamu merasa masih kecil, karena inner child kamu masih bereaksi dengan cara yang sama ketika berada di dekat mereka. Jadi, jika kamu merasa diabaikan atau ditinggalkan secara emosional oleh keluarga, perhatikan bahwa diri kamu yang lebih muda mungkin mencoba memberi tahu kamu sesuatu.

Kritik Diri dan Harga Diri Rendah

Kritik Diri dan Harga Diri Rendah/Foto: Pexels/Karolina Grabowska

Seseorang yang memiliki luka batin juga bisa ditandai dengan perasaan yang terlalu mudah mengkritisi diri sendiri atau mencari kesalahan serta meremehkan emosinya. Ini bisa terjadi karena adanya orang dewasa yang terlalu kritis atau menuntut di sekitar kamu semasa kecil.

Apa yang terjadi adalah diri kamu yang lebih muda “menginternalisasi” orang dewasa yang kritis ini, sehingga di masa dewasa hal itu menjadi bagian dari pemikiran dan pandangan dunia kamu sendiri.

Namun, penting untuk diingat bahwa pendapat kritik batin belum tentu benar. Pendapat tersebut kemungkinan perasaan lama yang dapat kamu pelajari untuk dilepaskan. Dengan begitu, kamu bisa membebaskan diri kamu dari luka inner child.

Masalah Hubungan

Masalah Hubungan/Foto: Pexels/SHVETS production

Jika kamu mendapati bahwa kamu berada dalam pola hubungan yang tidak sehat, tidak bahagia, penuh kekerasan, atau selalu mengejar orang-orang yang tidak ada, maka inner child kamu mungkin sangat terluka dalam kemampuan mereka untuk berhubungan secara sehat dengan orang lain.

Jadi, kamu perlu mempelajari lebih banyak bagaimana pengalaman masa kecil yang berbeda dapat mempengaruhi cara kamu membentuk ikatan di masa dewasa.

Masalah Mental, Fisik, dan Emosional

Masalah Mental, Fisik, dan Emosional/Foto: Pexels/Anastasia Shuraeva

Orang dengan inner child yang terluka sering kali mengalami perasaan hampa, tidak berdaya, dan putus asa yang terus menerus. Mereka mungkin merasa bahwa mereka hidup sebagai diri yang palsu dan kehidupan mereka tidak memiliki rasa yang hidup.

Mereka bahkan merasa sangat terputus dari orang lain. Masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, kecanduan, gangguan makan, dan C-PTSD juga dapat muncul. Ditambah dengan kondisi fisik seperti migrain, sindrom kelelahan kronis, dan fibromyalgia juga berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak.

Secara keseluruhan, semua hal di atas bisa menjadi tanda bahwa inner child kamu sedang mencoba mengkomunikasikan sesuatu yang penting kepada kamu. Cobalah untuk menghubungkan dirimu dengan inner child kamu untuk menyembuhkannya.

Caranya, berbicaralah dengan baik kepada inner child kamu secara teratur. Kemudian, berusahalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara apapun yang kamu bisa.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)