Jadi Topik Paling Dicari Netizen di Internet Sepanjang 2023, Ini Arti Catcalling dan UU yang Bisa Jerat Pelaku

Menjelang akhir tahun, Google merilis laporan Google Search in Year. Laporan ini menampilkan apa saja yang menjadi trending topic dan yang paling banyak dicari netizen di internet sepanjang 2023.

Menurut Communications Manager Google Indonesia, Feliciana Wienathan, sepanjang tahun 2023 menunjukkan masyarakat Indonesia semakin kritis dan jeli dalam menelaah informasi serta lebih bijak dalam menggunakan teknologi untuk mendapatkan manfaat maksimal, sebagaimana dilansir dari detikFinance.

Year in Search 2023 menunjukkan topik apa yang trending dan menarik perhatian masyarakat Indonesia dalam satu tahun. Salah satu topik dari kategori ‘apa’ yang paling dicari netizen Indonesia sepanjang 2023 adalah terkait apa itu catcalling.

Apa Itu Catcalling?

Jadi Topik Paling Dicari Netizen di Internet Sepanjang 2023, Ini Arti Catcalling dan UU yang Bisa Jerat Pelaku/Foto: Getty Images/iStockphoto/Highwaystarz-Photography

Catcalling menjadi salah satu topik yang paling dicari netizen Indonesia sepanjang 2023. Lantas, apa itu catcalling?

Catcalling adalah bentuk pelecehan seksual secara verbal yang digunakan oleh pelaku dengan tujuan menggoda korban. Biasanya, catcalling menggunakan kata-kata tidak senonoh dan terjadi di tempat umum atau publik. Fenomena catcalling, sayangnya, bukanlah hal yang asing lagi di masyarakat Indonesia.

Bentuk catcalling sendiri bermacam-macam, mulai dari kata-kata, siulan, teriakan, atau komentar tentang fisik. Kamu mungkin pernah melihat atau pernah mengalami ketika berjalan di suatu jalan seorang diri lalu tiba-tiba dipanggil, mendapat siulan, dan digoda oleh orang asing dengan kata-kata yang mungkin terdengar seperti pujian, namun dengan maksud terselubung. Hal ini merupakan catcalling, Beauties.

Jenis Catcalling
Two man yelling and finger whistling after a young beautiful woman. Young woman feeling anxiety and vulnerable.

Jadi Topik Paling Dicari Netizen di Internet Sepanjang 2023, Ini Arti Catcalling dan UU yang Bisa Jerat Pelaku/Foto: Getty Images/tomazl

Catcalling terbagi menjadi dua, yaitu pelecehan secara verbal dan non verbal. 

Dilansir dari detikcom, catcalling verbal adalah bentuk pelecehan seksual yang dilakukan dengan memberikan siulan atau komentar mengenai penampilan korban.

Sementara catcalling non verbal adalah bentuk pelecehan seksual yang dilakukan dengan penggunaan gestur fisik untuk memberikan penilaian terhadap penampilan korban.

UU TPKS Mengatur soal Pelecehan Seksual Non Fisik
Tanda-tanda perempuan pernah alami pelecehan mental/Foto: Freepik.com

Jadi Topik Paling Dicari Netizen di Internet Sepanjang 2023, Ini Arti Catcalling dan UU yang Bisa Jerat Pelaku/Foto: Freepik.com

Masih banyak orang yang belum sadar bahwa catcalling termasuk dari pelecehan non fisik, yaitu pelecehan verbal. Dibanding pelecehan fisik, pelecehan verbal yang termasuk pelecehan non fisik memang sedikit sulit diidentifikasi. Namun, dengan hadirnya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), diharapkan bisa meningkatkan pemahaman masyarakat akan pelecehan seksual serta menindak tegas para pelakunya.

UU TPKS memasukkan sembilan jenis kekerasan seksual yang bisa dijerat pidana. Berdasarkan Pasal 4 Ayat (1), Tindak Pidana Kekerasan Seksual terdiri dari:

(1) Tindak Pidana Kekerasan Seksual terdiri atas:
a. pelecehan seksual nonfisik;
b. pelecehan seksual fisik;
c. pemaksaan kontrasepsi;
d. pemaksaan sterilisasi;
e. pemaksaan perkawinan;
f. penyiksaan seksual;
g. eksploitasi seksual;
h. perbudakan seksual; dan
i. kekerasan seksual berbasis elektronik.

Bentuk Pelecehan Seksual Non Fisik
Alasan Mengapa Perempuan Korban Pelecehan Sering Merasa Rendah Diri/Foto: Freepik/Freepik

Jadi Topik Paling Dicari Netizen di Internet Sepanjang 2023, Ini Arti Catcalling dan UU yang Bisa Jerat Pelaku/Foto: Freepik/Freepik

Pelecehan seksual non fisik meliputi pernyataan, gerak tubuh, atau aktivitas yang tidak patut dan mengarah kepada seksualitas dengan tujuan merendahkan atau mempermalukan. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari catcalling, menggoda, komentar, candaan, kerlingan, hingga tatapan bernuansa seksual yang bisa membuat korban menjadi tidak nyaman dan trauma.

Mirisnya, berbagai bentuk pelecehan seksual non fisik tersebut sering kali jarang disadari sebagai bentuk pelecehan. Perilaku ini sering dinormalisasi karena dianggap sebagai bentuk ‘pujian’ atau keakraban. Padahal, korban bisa saja merasa tidak nyaman, ketakutan, bahkan hingga trauma dan menorehkan luka secara psikis.

Pelaku Catcalling Hingga Candaan Bersifat Seksual Bisa Dipidana 9 Bulan Penjara
Two man yelling and finger whistling after a young beautiful woman. Young woman feeling anxiety and vulnerable.

Jadi Topik Paling Dicari Netizen di Internet Sepanjang 2023, Ini Arti Catcalling dan UU yang Bisa Jerat Pelaku/Foto: Getty Images/tomazl

Dengan hadirnya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang resmi disahkan pada April 2022 lalu, pelaku catcalling yang termasuk pelecehan seksual non fisik bisa dipidana hingga 9 bulan penjara dan denda Rp10 juta.

Hal tersebut diatur dalam Pasal 5 UU TPKS, berikut bunyi pasalnya:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan seksual secara nonfisik yang ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan maksud merendahkan harkat dan martabat seseorang berdasarkan seksualitas dan/atau kesusilaannya, dipidana karena pelecehan seksual nonfisik, dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) bulan dan/atau pidana denda paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).”

Perlu dipahami, catcalling dan candaan bersifat seksual bukanlah sesuatu yang bisa dinormalisasi dan harus segera dihentikan. Bukan pula bentuk pujian atau sanjungan. Yuk, hentikan segala bentuk pelecehan!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)