8 Produk Buatan Luar Negeri Ini Sering Dikira Made in Indonesia, Sudah Tahu Belum?

Kamu tim pecinta produk lokal atau luar negeri? Well, kalau soal ini, masing-masing orang pasti punya pendapat dan alasan sendiri.

Namun Beauties tahu nggak bahwa banyak orang tertipu dengan branding image? Dalam hal ini, ternyata banyak produk buatan luar negeri yang sering dikira “made in Indonesia” karena strategi marketing dan nama brand yang terkesan lokal banget.

Penasaran? Berikut daftarnya!

1. Bata


Bata/Foto: bata.com

Mendengar nama Bata yang “lokal banget”, tidak heran jika masyarakat menganggap brand ini berasal dari Indonesia. Padahal, perusahaan yang memproduksi merek alas kaki legendaris ini didirikan oleh pengusaha asal Republik Ceko, Tomas Anna dan Antonin Beta, pada tahun 1894.

Brand ini pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1931 dan dikelola oleh PT Sepatu Bata Tbk. Produk-produk yang dijual awalnya diimpor dari Ceko, hingga akhirnya Bata mulai bikin pabrik sendiri di Kalibata, Jakarta pada 1940.  

2. Hansaplast

Hansaplast/Foto: hansaplast.id

Hansaplast menjadi produk wajib dalam kotak P3K karena sangat praktis untuk menangani luka serta menurunkan risiko infeksi. Karena terlalu mendarah daging, sampai-sampai orang Indonesia lupa bahwa produk plester ini diproduksi oleh perusahaan asal Jerman bernama Beiersdorf.

Hansaplast sendiri mulai muncul di Jerman pada tahun 1922 dan terus mengalami perkembangan. Saat ini, merek Hansaplast telah merajai pasar di Jerman dan belasan negara lainnya di dunia, termasuk Indonesia.

3. Salonpas

Salonpas/Foto: wikipedia.org

Selain Hansaplast sebagai pertolongan pada luka, ada Salonpas sebagai koyo pereda nyeri otot yang dikenal ampuh. Lagi-lagi banyak yang salah kaprah, Salonpas ternyata diproduksi oleh Hisamitsu Pharmaceutical yang berbasis di Tosu, Jepang.

Produk ini mulai diproduksi pada tahun 1934, dan kini telah beredar di lebih dari 50 negara. Salonpas di Indonesia memang menerapkan strategi marketing yang lokal banget sehingga sering dikira berasal dari Tanah Air.

4. Saridon

Saridon/saridon.co.id

Saridon adalah salah satu merek obat sakit kepala yang cukup dikenal di Indonesia selama beberapa generasi. Namanya memang Indonesia banget, padahal produk ini diproduksi oleh perusahaan farmasi Bayer yang berpusat di Leverkusen, Jerman. Saridon sendiri masih satu company dengan obat pereda nyeri Aspirin yang populer di Eropa dan Amerika.

5. Susu Bendera

Susu Bendera/Foto: frisianflag.com

PT Frisian Flag Indonesia (FFI) yang memproduksi Susu Bendera ternyata masih bernaung di bawah Friesland Campina yang didirikan di Belanda sejak tahun 1922. Melansir Wikipedia, Susu Bendera (Frisian Flag) awalnya diimpor dari Cooperative Condensfabriek Friesland (nama awal Friesland Campina).

Pertama kali beredar dengan merek Friesche Vlag, produk ini kemudian disesuaikan menjadi Frisian Flag. Sementara itu, PT Friesche Vlag Indonesia baru berdiri pada tahun 1968 dan hingga kini masih dinaungi perusahaan induknya.

6. Blue Band

Blue Band/Foto: blueband.com

Blue Band adalah brand margarin yang cukup ikonik karena sudah digunakan masyarakat Indonesia. Namun walaupun memiliki citra seperti produk Indonesia, merek ini sebenarnya berasal dari Belanda, tepatnya diproduksi oleh perusahaan Van den Bergh.

7. Lifebuoy

Lifebuoy/Foto: lifebuoy.co.id

Terkenal dengan produk sabun mandi, shampoo, hingga hand sanitizer, Lifebuoy adalah merek yang dikelola oleh Unilever dari Inggris. Brand ini lahir pada tahun 1895 di Inggris sebagai sabun anti kuman yang dikhususkan untuk anggota keluarga kerajaan saat itu. Kemudian, seiring meningkatnya popularitas, merek ini mulai digunakan di Amerika Serikat pada 1923 dan sekarang sudah mendunia.

8. Rinso

Rinso/Foto: rinso.com

Seperti halnya Lifebuoy, Rinso adalah brand pembersih dan perawatan pakaian di bawah naungan Unilever asal Inggris. Diciptakan oleh Robert S. Hudson, produk ini awalnya dijual dengan nama Hudson’s Soap. Namun pada tahun 1908, Hudson’s Soap dibeli oleh perusahaan Lever Brothers, yang kemudian berubah nama menjadi Unilever. Pada tahun 1918, pembersih pakaian ini kemudian diproduksi secara komersial dengan nama Rinso, dan kemudian masuk Indonesia pada 1970.

Berdasarkan ulasan di atas, kini kita bisa paham bahwa branding image ternyata sangat berpengaruh pada produk yang dijual. Bukan hanya soal nama, perusahaan di atas rupanya menggunakan trik yang ampuh sehingga bisa nge-blend dengan masyarakat bersama produk lokal lainnya. Hayo, siapa yang selama ini tertipu?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)