8 Alasan Mengapa 5 Tahun Awal Pernikahan Begitu Terasa Berat, Menurut Para Ahli!

Beauties, kamu mungkin sering mendengar omongan sekitar atau membaca di media tentang lima tahun awal pernikahan merupakan tahun-tahun yang begitu rentan bagi pasangan suami istri. Para ahli pun mengatakan demikian.

Namun, kabar baiknya adalah beratnya tahun-tahun pertama tidak akan berlangsung lama. Meskipun demikian, kamu tetap perlu mengetahui dan mempersiapkan apa saja beberapa faktor yang memengaruhi rentannya pernikahan di kehidupan awal setiap pasangan suami istri.

Apa saja kira-kira? Simak selengkapnya yang berikut ini, Beauties.

1. Terjadi Banyak Perubahan dan Penyesuaian

Terjadi banyak penyesuaian dan perubahan/Foto: Pexels/Ron Lach

Dilansir dari Verywell Mind, tahun pertama pernikahan mungkin akan terasa sulit sekali karena penuh dengan perubahan dan penyesuaian dengan pasangan. Apalagi, kamu dan pasangan sudah tidak lagi berteman atau berpacaran, melainkan menyandang sebagai suami dan istri.

Perubahan yang mungkin akan kamu alami dapat ditemukan dari munculnya sifat asli pasangan yang sebelumnya tertutupi atau tidak terlalu kentara terlihat ketika kalian belum menikah.

Meskipun mungkin kamu sudah lama mengenal pasanganmu, kamu akan menemukan sikap atau kebiasaan tentang pasangan yang mungkin tidak kamu sukai. Begitu pula sebaliknya. Di sinilah perlunya komunikasi yang baik untuk sama-sama memperbaiki diri.

2. Pernikahan Tidak Seindah Ekspektasi

Pernikahan tidak seindah ekspektasi/Foto: Pexels/Pavel Danilyuk

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pengantin baru mungkin lebih rentan terhadap ketidakpuasan karena ekspektasi yang tidak realistis atau tidak sesuai dengan yang dibayangkan sebelumnya. Misalnya, dari ekspektasi tentang tindakan atau hal kecil, tanggung jawab, dan pengalaman seks yang diinginkan.

3. Adanya Perbedaan Rencana Hidup

Perbedaan rencana hidup/Foto: Pexels/August de Richeliu

Senada dengan poin kedua, mengutip Arthur J White, seringkali rencana dan hal-hal yang telah disepakati sebelum menikah tidak berjalan seperti yang dibayangkan.

Meskipun beberapa kompromi mungkin dilakukan, tidak semua keputusan dapat ditangani dengan mudah, sehingga menimbulkan stres dan perdebatan sengit yang akan memunculkan emosi dan karakter sesungguhnya dari pasangan ketika sedang marah besar.

4. Masalah Keuangan dan Utang

Masalah keuangan dan utang/Foto: Pexels/Andrea Piacquadio

Masalah keuangan dan utang dinilai menjadi alasan nomor satu pertengkaran suami istri. Maka dari itu, selama tahun-tahun awal pernikahan, kamu dan dia harus bisa menyesuaikan urusan keuangan dan kebiasaan belanja, bersikap terbuka tentang pendapatan dan utang yang dimiliki, anggaran rumah tangga, pos keuangan untuk liburan dan urusan kesehatan, dan sebagainya.

5. Menyatunya Dua Keluarga

Menyatunya dua keluarga/Foto: Unsplash/Rajiv Perera

Mengutip Hitched, kamu pasti sering mendengar bahwa pernikahan adalah penyatuan dua keluarga. Bukan hanya sang mempelai perempuan dan mempelai pria saja. Dengan kata lain, tidak ada istilah “keluargamu”, “keluargaku”, tapi “keluarga kita” untuk menyebut keluarga dari kedua belah pihak.

Dalam hal ini, kamu harus bisa membagi waktu berkualitas dengan keluargamu dan keluarganya secara adil. Bisa dibilang, ini terdengar mudah tapi dalam pelaksanaannya cukup sulit lho, Beauties.

6. Konflik Tiada Berakhir

Konflik tiada akhir/Foto: Pexels/RODNAE Production

Dilansir dari Mom Junction, dalam kehidupan pernikahan konflik akan sering muncul, bahkan melalui hal-hal sepele. Jika saat pacaran kamu dan pasangan punya ruang dan waktu untuk menenangkan diri, ketika menikah akan berbeda.

Kamu harus selalu satu atap dengan orang yang sedang bertengkar hebat atau berargumen keras denganmu. Dan ini bukanlah hal yang mudah, Beauties.

7. Hilangnya Kebebasan

Hilangnya kebebasan/Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko

Melansir Stylecraze, setelah menikah kamu mungkin akan kehilangan kebebasan untuk melakukan apa pun yang kamu inginkan. Setelah menjalani rumah tangga, kamu harus bertanggung jawab dan meminta izin atas apa yang ingin kamu lakukan pada suamimu.

8. Perbedaan Love Language (Bahasa Cinta)

Perbedaan love language atau bahasa cinta/Foto: Pexels/Andrea Piacquadio

Setiap orang memiliki bahasa cinta atau love language-nya sendiri-snediri. Sebagian orang mungkin mudah mengekspresikannya, sebagian lagi malu untuk mengungkapkannya.

Maka dari itu, kamu dan pasanganmu harus saling memahami bahasa cinta yang kalian suka dan inginkan. Apakah melalui sentuhan fisik yang romantis, kata-kata manis, waktu yang berkualitas, hadiah, atau pelayanan? Hal ini perlu dibicarakan agar tidak menimbulkan kekecewaan dalam hubungan nantinya.

Akhir kata, mungkin ada momen di saat pernikahanmu tidak berjalan sesuai keinginanmu atau sedang timbul masalah dalam hubunganmu dengan suami. Nah, di sinilah komitmen yang kuat dan dalam diperlukan dari kedua belah pihak untuk mengatasi masalah tersebut melalui tindakan agar kalian dapat mempertahankan rumah tangga hingga langgeng bertahun-tahun ke depan. 

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya KLIK DI SINI!

(ria/ria)