5 Tanda Masa Kecil yang Tidak Bahagia dan Masih Memengaruhi Kehidupan Saat Ini

Setiap orang pasti memiliki memori masa lalu dan merangkainya menjadi jalinan masa kini. Terkadang, peristiwa di masa lalu yang menyedihkan tanpa kita sadari masih terbawa dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini.

Pernahkah kamu mempertanyakan apakah perilaku, emosi, atau reaksi tertentu yang kamu tunjukkan adalah normal? Atau mungkin bertanya-tanya apakah itu sisa-sisa masa kecil yang tidak begitu menyenangkan?

Mengidentifikasi apakah masa kecil kamu masih memengaruhi kehidupan dewasa dapat menjadi sebuah tantangan bagi kamu. Namun, jika kamu mau mengidentifikasi tanda-tandanya, kamu akan menggali lebih dalam masa lalu dan memulai proses penyembuhan diri.

Merangkum dari Expert Editor, ada tanda sederhana yang menunjukkan masa kecil kamu yang tidak bahagia masih mempengaruhi kehidupan masa kini. Yuk, simak!

Sering Merasa Berpura-Pura

Pengalaman umum yang sering dialami seseorang apabila memiliki kenangan masa kecil yang tidak bahagia adalah sesekali merasa seperti berpura-pura dalam kehidupan sehari-hari. Perasaan ini sering kali berasal dari kurangnya kepercayaan diri yang mungkin telah rusak selama masa pertumbuhan kamu.

Masa kanak-kanak yang penuh gejolak juga sering kali membuat kita merasa seolah-olah kita tidak cukup atau tidak layak merah kesuksesan dan kebahagiaan. Kuncinya, kamu harus mengenali pola perilaku ini dan memahami akar penyebabnya. Sebaiknya, kamu mengeksplorasi perasaan ini dengan konselor untuk mengatasi kompleksitas pengalaman masa lalumu.

Merasa Terlalu Bertanggung Jawab

Merasa Terlalu Bertanggung Jawab/Foto: Freepik/pressfoto

Seperti yang kita pahami, tanggung jawab adalah suatu kebaikan. Namun, pernahkah kamu berpikir bahwa terlalu bertanggung jawab bisa menjadi pertanda masa kecil yang tidak bahagia? Ini mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi, tapi ini benar adanya.

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang kacau atau tidak stabil sering kali memikul tanggung jawab yang jauh melebihi usianya. Ini adalah mekanisme bertahan hidup, yang dilakukan untuk memastikan keselamatan diri sendiri atau orang tua mereka.

Memasuki usia dewasa, pola tanggung jawab yang berlebihan akan tetap menempel pada dirimu, membuat kamu mengambil lebih dari yang bisa kamu tangani. Jika kamu terus menerus merasa terbebani oleh tanggung jawab, sebaiknya kamu merenungkan apakah ini berasal dari pengalaman masa kecil kamu.

Menyadari kecenderungan ini bisa menjadi langkah pertama menuju penetapan batasan yang lebih sehat dan belajar melepaskan beban yang tidak semestinya.

Kesulitan Mengatakan Tidak

Kesulitan Mengatakan “Tidak”/Foto: Freepik

Apakah kamu termasuk orang yang suka menyenangkan orang lain? Apakah kamu sering mendapati dirimu menyetujui hal-hal yang tidak ingin kamu lakukan hanya karena tidak sanggup mengatakan tidak? Ini bisa menjadi pertanda lain bahwa masa kecil yang tidak bahagia masih mempengaruhi perilaku kamu hingga saat ini.

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang buruk sering kali belajar untuk menekan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri untuk menghindari konflik. Hal ini akan menyebabkan penyangkalan diri yang berlanjut hingga masa dewasa sehingga muncul kesulitan dalam menetapkan batasan dan memprioritaskan perawatan diri.

Jika kamu mengalami hal ini, mungkin saatnya mencari tahu akar permasalahan di balik ketidakmampuan kamu untuk mengatakan “tidak”. Kamu bisa mencari bantuan professional untuk menetapkan batasan yang lebih sehat dan memprioritaskan kebutuhanmu sendiri tanpa rasa bersalah.

Sangat Perfeksionisme

Sangat Perfeksionisme/Foto: Freepik/drobotdean

Perfeksionisme sering kali menjadi topeng atau perisai yang kita gunakan untuk melindungi diri dari penilaian atau kritik yang kita takuti. Bukan hanya tentang berjuang untuk mencapai keunggulan, tapi tentang kebutuhan yang melekat untuk menjadi sempurna. Kamu takut bahwa kesalahan atau kekurangan apapun dapat menyebabkan penolakan atau ketidaksetujuan.

Apabila kamu terus menerus mengejar kesempurnaan dan menilai diri sendiri dengan keras atas setiap kesalahan, ada kemungkinan pola ini telah terbentuk di masa kecil yang tidak bahagia. Menyadari hal ini bisa menjadi langkah ampuh untuk melepaskan diri dari belenggu perfeksionisme dan menerima diri kamu yang otentik dan tidak sempurna.

Kesulitan Mempertahankan Hubungan Dekat

Kesulitan Mempertahankan Hubungan Dekat/Foto: Freepik

Membangun dan memelihara hubungan yang dekat dan bermakna adalah kerumitan yang membutuhkan usaha, kerentanan, dan kepercayaan. Menariknya, kemampuan kita untuk membentuk hubungan ini tidak hanya dipengaruhi oleh kehidupan kita saat ini, tetapi juga pengalaman masa lalu.

Anak-anak yang mengalami penelantaran, pelecehan, atau bentuk trauma lainnya sering kali mengalami kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan dekat di masa dewasa. Perjuangan ini bisa berasal dari ketakutan mendasar akan penolakan atau pengabaian, atau dari kurangnya pemahaman tentang seperti apa hubungan yang sehat.

Mengakui kesulitan kamu dalam menjalin hubungan bisa menjadi langkah pertama menuju penyembuhan dan mempelajari cara membangun hubungan yang lebih sehat.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)