5 Alasan Dibalik Gangguan Kecemasan pada Remaja Semakin Meningkat

Kecemasan telah menjadi gangguan kesehatan mental yang paling umum. Sayangnya, penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa saja. Menurut National Institute Of Mental Health, hampir 32 persen remaja mengalami gangguan kecemasan.

Namun, hal yang meresahkan dari statistik ini adalah bahwa kecemasan semakin meningkat seiring berjalannya waktu, meningkat sebesar 20 persen sejak tahun 2007. Lantas, mengapa kecemasan pada remaja meningkat? Berikut 5 alasannya sebagaimana dilansir dari Your Tango.

1. Peristiwa Kehidupan yang Penuh Tekanan dan Traumatis


Ilustrasi/Foto: Freepik.com/8photo

Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dan gejala kecemasan yang memburuk, khususnya peristiwa yang berkaitan dengan kesehatan dan perselisihan keluarga memiliki dampak paling besar.

Peristiwa hidup yang penuh stres dan traumatis dapat menimbulkan kecemasan dengan menyebabkan seseorang menjadi lebih fokus pada sensasi tubuh, sehingga mengalami kecemasan yang lebih akut.

Namun, gejala kecemasan belum tentu disebabkan oleh situasi stres itu sendiri, tetapi bagaimana hal tersebut diinterpretasikan dan diinternalisasikan oleh orang yang mengalaminya dapat menimbulkan gejala kecemasan. Penelitian mengaitkan penurunan kualitas hidup dengan peningkatan gejala kecemasan.

2. Harapan yang Tinggi

Ilustrasi/Foto: Freepik.com/wavebreakmedia_micro

Kecemasan terjadi di semua demografi, termasuk mereka yang kurang beruntung dan yang beruntung. Suniya Luther dari Arizona State University menyatakan bahwa remaja yang memiliki hak istimewa termasuk yang paling menderita. “Anak-anak ini mudah cemas dan perfeksionis,” katanya.

Bukan hanya tingginya standar dan ekspektasi orangtua yang mungkin menyebabkan gangguan kecemasan pada remaja, banyak remaja yang secara internal memberikan tekanan pada diri mereka sendiri.

Menurut survei tahunan yang dilakukan oleh Higher Education Research, sekitar 41 persen mahasiswa tahun pertama yang disurvei menyatakan merasa kewalahan dengan semua yang harus mereka lakukan.

3. Media Sosial
Kecanduan media sosial juga berdampak terhadap psikologis seseorang, yakni rentan mengalami self esteem rendah.

Ilustrasi/Foto:Freepik.com/Freepik

Remaja masa kini hidup berdampingan dengan teknologi yang semakin berkembang. Jadi, wajar saja kalau mereka selalu terhubung dengan media sosial. Namun, peningkatan tajam kecemasan di kalangan remaja berkorelasi dengan munculnya popularitas media sosial di kalangan mereka.

Ada banyak alasan mengapa paparan media sosial dalam jumlah besar berdampak buruk pada kesehatan mental. Bagi sebagian orang, hal ini dapat memperburuk gejala kecemasan. Remaja yang terlalu sering menggunakan media sosial dapat mengembangkan pandangan yang menyimpang tentang kehidupan dan pandangan dunia mereka berdasarkan postingan yang mereka lihat.

Sulit untuk tidak membandingkan diri dengan postingan orang lain di media sosial. Mereka yang menghabiskan banyak waktu di media sosial dapat memiliki harga diri yang lebih rendah, persahabatan yang lebih lemah, peningkatan risiko stres, depresi, dan kecanduan internet.

4. Kurangnya Dukungan yang Tepat

Ilustrasi/Foto: Freepik.com/tonodiaz

Dengan meningkatnya kesadaran akan gangguan kecemasan pada remaja, banyak organisasi dan kelompok yang menganjurkan kesadaran dan berupaya menghubungkan anak-anak dengan dukungan yang mereka butuhkan. Namun, itu bukanlah hal yang mudah.

Satu masalah yang mungkin tidak dipahami oleh remaja adalah tidak hanya ada satu cara untuk mengelola kecemasan. Mereka mungkin menjadi putus asa untuk mencari bantuan jika solusi pertama atau kedua tidak membantu. Selain itu, orangtua mungkin tidak tahu bagaimana menyeimbangkan antara mengatasi kecemasan anak remajanya dan melakukannya secara berlebihan.

5. Ketakutan Menghantui Segalanya

Illustrasi/Foto: Freepik.com/zdyma4

Dengan banyaknya informasi dan kemampuan untuk menyebarkan berita dengan cepat, dunia kita terlihat semakin menakutkan bagi banyak remaja. Entah itu politik, lingkungan hidup, atau masalah iklim, apa yang kita masukkan ke dalam diri kita, media lebih banyak memuat cerita tentang apa yang salah daripada benar.

Para remaja menyadari sepenuhnya bahwa hal ini terjadi di tempat-tempat yang sering mereka kunjungi, seperti sekolah dan bioskop. Banyak remaja bertanya-tanya apakah aman untuk pergi ke tempat-tempat tersebut.

Saat ini, sekitar 80 persen remaja dengan gangguan kecemasan tidak mendapatkan pengobatan yang mereka perlukan, padahal kecemasan bisa diatasi! Jadi, jika kamu melihat tanda-tanda kecemasan pada anak remaja di sekitar atau khawatir dia mungkin menderita kecemasan, segera hubungi konselor kesehatan mental.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)