4 Dampak Memboikot Produk Israel Bagi Masyarakat Indonesia, Banyak Untung atau Ruginya?

Di tengah konflik Palestina dan Israel, muncul isu terkait beberapa brand yang disebut pro-Israel. Sejumlah orang kemudian mendeklarasikan boikot untuk produk-produk dari brand seperti McDonalds, Starbucks, dan sebagainya.

Di satu sisi, dukungan tersebut diakui dapat berdampak pada upaya damai antara Palestina dan Israel. Namun di sisi lain, beberapa orang berpendapat bahwa hal tersebut dapat memicu penurunan ekonomi. Khususnya, bagi karyawan yang bekerja di perusahaan produk tersebut.

Untuk lebih lengkapnya, yuk kita ulas apa saja dampak yang dapat terjadi pada masyarakat kita dari gerakan memboikot produk Israel.

1. Dampak terhadap Perdagangan

Dampak terhadap perdagangan/Foto: Pexels/Pixabay

Dilansir dari detikEdu, aksi boikot dapat berpengaruh signifikan terhadap stabilitas perdagangan internasional. Contoh dampaknya ialah menurunnya penghasilan pada pekerja perusahaan Israel di Indonesia, serta menurunnya minat dan daya beli konsumen.

2. Memajukan Produk Lokal

Memajukan produk lokal/Foto: Pexels/Yanuar Putut Widjanarko

Aksi boikot dinilai sebagai momen tepat untuk mendukung produk lokal agar lebih eksis dan laris di pasar nasional. Saat-saat seperti ini bisa menjadi peluang untuk pengusaha lokal menunjukkan kualitas produknya yang tidak kalah dengan produk luar negeri. Demikian yang dilansir dari detikEdu.

Dengan memilih produk alternatif dari Indonesia, misalnya membeli ayam goreng dari brand asal Indonesia sebagai pengganti ayam K*C, UMKM di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk lebih maju dan makmur. 

3. Berpotensi Menimbulkan PHK

Berpotensi menimbulkan PHK/Foto: detikFinance/Tim Infografis/Fauzan Kamil

Dikutip dari detikcom, tidak menutup kemungkinan bahwa perusahaan bisa saja akan melakukan PHK besar-besaran sebagai imbas dari penurunan penghasilan perusahaan.

Jadi, perlu diingat pula bahwa sebagian besar pekerja di perusahaan atau pabrik asal Israel yang ada di Indonesia adalah warga negara kita sendiri. Kasihan, bukan, kalau mereka harus menjadi korban PHK karena seruan dan aksi boikot yang terjadi terus menerus?

4. Menurunnya Pendapatan Kotor Perusahaan

Menurunnya pendapatan kotor perusahaan/Foto: Pexels/Nicola Barts

Dikutip dari detikFinance, memboikot produk yang berhubungan dengan suatu negara dapat membuat pendapatan kotornya menjadi menurun. Pamor dari suatu produk bisa negatif di mata publik dan membuat jumlah permintaan menjadi terganggu.

Dilansir dari laman detikFinance lainnya, ekonom Indef bernama Nailul Huda mengungkapkan bahwa momentum ini bisa dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk menarik masyarakat menjadikan produknya sebagai substitusi dari berbagai produk yang mendukung Israel. Sehingga, aksi boikit juga harus dibarengi dengan penggunaan prduk dalam negeri dan peningkatan kualitas produk serta pelayanan dari UMKM.

Mengenai ramainya pemboikotan produk Israel, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyerahkan hal tersebut kepada pilihan masyarakat. Dengan kata lain, jika sudah terbiasa dan cocok dengan produk terdahulu yang ternyata terafiliasi dengan Israel tidak apa-apa.

Tidak apa-apa pula bila ingin beralih ke brand lain yang berasal dari Indonesia. Sebab, hal ini bisa menjadi bentuk dukungan terhadap usaha UMKM dan menjadikan produk anak bangsa mampu bersaing dengan produk luar negeri. 

Jadi, bagaimana dengan kamu, Beauties?

——

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)