3 Sosok Perempuan yang Jadi Pejuang Keberagaman dan Inklusi di Asia

Asia memiliki banyak kelompok etnis dan sub-budaya yang tak terhitung jumlahnya. Namun, perjalanan menuju keberagaman dan inklusivitas masih sangat jauh karena banyak kelompok yang kurang terwakili dan terpinggirkan masih menghadapi tantangan berat.

Meski begitu, ada banyak tokoh inspiratif yang bekerja keras untuk memastikan bahwa semua suara didengar dalam perbincangan global tentang hak asasi manusia, terutama ketika menyangkut kelompok-kelompok seperti etnis minoritas dan penyandang disabilitas.

Beberapa dari para pendukung ini adalah anggota dari komunitas tersebut, sementara yang lainnya merupakan sekutu yang memberikan kekuatan mereka untuk perjuangan ini. Dilansir dari Tatler Asia, berikut 3 di antaranya.

1. Yip Pin Xiu, Atlet Paralimpiade (Singapura)


Yip Pin Xiu/Foto: Instagram.com/yippinxiu

Kemenangannya atas medali emas pertama untuk Singapura di Beijing Summer Paralympics pada tahun 2008 merupakan awal dari perjalanan Yip Pin Xiu menjadi atlet paralimpiade yang paling berprestasi di negaranya.

Yip Pin Xiu yang berkompetisi pada kategori S2 untuk tunadaksa ini mengkhususkan diri pada cabang olahraga gaya punggung. Perolehan medalinya mencakup lima emas dan satu perak di Paralimpiade, lima medali emas dan dua perak di World Championships, serta satu emas dan dua perunggu di Asian Para Games.

Selain itu, Yip Pin Xiu juga menjabat sebagai anggota parlemen yang dicalonkan dari tahun 2018 hingga 2020, berupaya mengatasi isu-isu seperti olahraga dan inklusi, pelecehan di tempat kerja, dan kekerasan seksual di kampus. Pada tahun 2022, dia dianugerahi President’s Award untuk Inspiring Achievement oleh Presiden Halimah Yacob sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap olahraga dan masyarakat.

2. Isa Lorenzo, Pendiri Galeri Silverlens (Filipina)

Deretan perempuan pejuang inklusi di Asia
Isa Lorenzo/Foto: Dok. GMA Network

“Membuka galeri di New York telah menjadi impian kami sejak tahun 2004, tapi saya merasa tidak terlihat ketika saya tinggal di sini saat itu karena kami adalah minoritas,” kata Isa Lorenzo kepada Tatler pada tahun 2022.

Meskipun mereka mungkin pendatang baru di New York, Isa dan rekan direkturnya, Rachel Rillo, terus membangun reputasi Silverlens sebagai salah satu galeri seni kontemporer terkemuka di Asia Tenggara selama hampir dua dekade. Dengan ekspansi internasionalnya, Silverlens memberikan panggung yang lebih besar kepada artis-artisnya dari Asia Tenggara dan kawasan Asia-Pasifik.

3. Beatrice Leong, Pembuat Film dan Aktivis (Malaysia)

Deretan perempuan pejuang inklusi di Asia
Beatrice Leong/Foto: Dok. The Vibes

Beatrice Leong berusia 36 tahun ketika dia mengetahui bahwa dia mengidap autisme. “Diagnosis adalah informasi penting yang membantu saya menemukan jalan menuju stabilitas,” katanya. Dengan kemungkinan pria empat kali lebih besar didiagnosis autisme dibandingkan perempuan, Beatrice memahami bahwa berbagi cerita seperti miliknya akan membantu memberdayakan perempuan lain.

Sejak itu, dia aktif di berbagai platform guna menyoroti komunitas. Dia juga menulis otobiografi dan menggarap film dokumenter berjudul Lost Girls. Beatrice berkata, “Kami semua berbagi perasaan bahwa kami berbeda, tapi tidak pernah tahu alasannya. Ini menjadi lebih dari sekadar kisah sedih saya dan saya menyadari betapa sedikitnya yang diberitahu tentang bagaimana perempuan mengalami autisme.”

Itulah deretan perempuan pejuang inklusi di Asia. Dengan melibatkan berbagai kelompok orang secara aktif dan memberikan kontribusi kepada masyarakat, komunitas global menjadi lebih progresif, lebih setara, dan lebih menarik.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di TheTriump? Yuk, gabung ke komunitas pembaca TheTriump, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)